Selasa, 27 September 2011

BABAD PURBALINGGA (18) : KIAI NARASOMA

Semasa hidupnya Kiai Narasoma adalah demang Timbang membawahi desa-desa Timbang (sekarang dukuh Timbang termasuk desa Penambongan), Purbalingga Kidul, Kandanggampang dan Purbalingga Lor.

Tak seorangpun diantara rakyat Timbang yang mengerti dari mana asal usul Kiai Narasoma ini. menurut legenda, nama Narasoma berasal dari perkataan Nara = Orang, Soma atau Suma = Gemar bertapa. Jadi artinya orang yang gemar bertapa.

Ketika mengadakan khajatan mengawinkan puterinya, dirumahnya Kiai Narasoma diadakan pertunjukan wayang kulit. Banyak tamu termasuk Adipati Onje tampak hadir menyaksikan pertujukan itu.

Sesaat hidangan dikeluarkan, suasan tiba-tiba menjadi kacau balau. Pertunjukan dihentikan, Adipati Onje marah-marah, menuduh Kiai Narasoma berusaha membunuhnya dengan jalan membubuhkan racun dalam hidangan yang disuguhkan kepadanya. Belakangan diketahui, dalam nasi yang dihidangkan terdapat bintik-bintik hitam yang ternyata nasi beras hitam.

Namun dengan kerendahan hati Kiai Narasoma tidak mengakuinya, dan merasa tidak akan berbuat jahat terhadap atasannya.

Paginya Kiai Narasoma memanggil semua sanak familinya, untuk diberi pesan. Pesannya, orang-orang Timbang dilarang sampai turun temurun nanggap wayang kulit.

Larangan itu juga dahulu berlaku bagi masyarakat desa-desa tersebut, diatas yang menjadi kekuasaannya. desa-desa yang kena larangan disebut "Bumi Keputihan".

Makam Kiai Narasoma terletak didukuh Pritgantil Purbalingga Wetan dan dikenal dengan nama Makam Narasoma.

Sumber : Tri Atmo: Babad dan Sejarah Purbalingga, Pemerintah DATI II Purbalingga ; 1984



"Mulai besok mulai terbit Sejarah Purbalingga"

1 komentar:

Jemari G-Wul mengatakan...

Data dan sumber referensi yg bagus. Kebetulan di Desa Gunungwuled juga ada larangan nanggap wayang kulit, cuma cerita munculnya larangan itu berbeda...

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international voip calls