Senin, 25 Juni 2012

Dua Film Pelajar Purbalingga Raih Penghargaan FFPI 2012

Film fiksi “Jono Berlari” sutradara Astia Nur Astuti dari SMA Negeri 1 Bukateja dan film dokumenter “Bangku Untuk Remaja” sutradara Dwi Astuti dari SMA Negeri 1 Kutasari masing-masing berhasil menyabet Film Terbaik kategori Fiksi (live action) dan kategori Dokumenter pada ajang Festival Film Pelajar Indonesia (FFPI) 2012. Festival pelajar yang memasuki tahun ke-3 ini digelar di Art Cinema kampus Institut Kesenian Jakarta pada 23-24 Juni 2012. Tahun ini FFPI mampu mengumpulkan 154 karya film dari lima kategori seluruh Indonesia. “Penghargaan ini yang pertama bagi film produksi perdana sekolah kami. Jadi membanggakan dan harapannya menjadi penyulut semangat saya dan teman-teman untuk terus membuat film,” tutur Astia Nur Astuti sutradara “Jono Berlari”. 


Film pendek “Jono Berlari” produksi Sabuk Cinema ekskul sinematografi SMAN 1 Bukateja berkisah tentang seorang pelajar bernama Jono. Untuk menjadikan sepatunya hitam, Jono yang bercita-cita menjadi atlet lari mengoleskan langes penggorengan. Sari, tetangga sekaligus teman sepermainan Jono, yang sangat perhatian merayu Jono mengikuti lomba. Demi Sari, Jono memenangkan lomba lari. Demi sari pula, Jono rela hadiah lomba diserahkan pada Sari untuk biaya berobat ibunya. Sementara film dokumenter “Bangku Untuk Remaja” produksi Papringan Pictures ekskul sinematografi SMAN 1 Kutasari mengungkap realita para remaja putus sekolah di Purbalingga yang bekerja di sektor plasma bulu mata. Mereka tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi dan orang tua mereka hanya bisa pasrah. Sutradara “Bangku Untuk Remaja” Dwi Astuti tidak hanya bangga telah mempersembahkan yang terbaik untuk sekolahnya disaat dia harus meninggalkan sekolah karena kelulusan, tapi juga kebanggaan telah berbagi kabar nasib remaja dikampungnya yang tidak mampu mengenyam pendidikan dan terjebak menjadi buruh anak. “Lewat karya film kami bisa berbagi kabar. 


Semoga pemerintah daerah tidak tinggal diam dan malah mendukung semakin terpuruknya nasib buruh anak di Purbalingga,” tutur sutradara yang sebelumnya telah mengantarkan film ini meraih dokumenter terbaik ajang Festival Film Purbalingga 2012 lalu. Selain kategori fiksi dan dokumenter, FFPI 2012 juga memberi penghargaan terbaik pada kategori animasi yang diraih “Rainbow” dari SMKN 2 Buduran Sidoarjo, kategori iklan layanan masyarakat diraih “Hindari Penggunaan Handphone Saat Berkendara” dari SMKN 1 Cimahi, dan kategori video musik “Melodiku” SMKN 2 Buduran Sidoarjo, serta sutradara terbaik diraih Mohamad Andung dengan filmnya “Keliling Indonesia” yang berhak mendapat beasiswa 8 semester di Fakultas Film dan Televisi (FFTV) IKJ. Salah satu juri yang juga Dekan FFTV IKJ Gotot Prakosa, S.Sn., M.Hum., berjanji bila para sutradara yang karyanya lolos seleksi di FFPI 2012 ini tertarik masuk FFTV IKJ, mereka akan masuk tanpa tes. “Ini menjadi komitmen kami menjaring bakat-bakat pembuat film dari berbagai daerah,” ujarnya.(BL-)

Disadur Langsung dari : http://clc-purbalingga.blogspot.com/

Senin, 07 Mei 2012

Perang Jenar atau Perang Mangkubumen

















Pangeran Mangkubumi atau Pangeran Kabanaran adalah adik Sunan Pakubuwana II. Sunan Pakubuwana II pernah berjanji akan menyerahkan sebidang tanah kepada Pangeran Mangkubumi, apabila Pangeran Mangkubumi dapat menundukan Mas Said. Tetapi janji itu tak pernah ditepati. Akibatnya timbul perselisihan antara Pakubuwana II disatu pihak, dengan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said. Dilain pihak Belanda ikut campur tangan.

Ketika perang Mangkubumen mulai berkobar, tahun 1749 Sunan Pakubuwana II wafat. Sebelum wafat, almarhum sempat menitipkan kerajaan Mataram kepada kompeni. Kemudian kompeni mengangkat putera Sunan Pakubuwana II menjadi Raja Mataram dengan gelar Sunan Pakubuwana III, atau Kanjeng Sunan Pakubuwana Senapati Nglaga Ngabdoerahman Sajidin panatagama Tata Pandita Rasaning Boemi, pada hari Senen Pagi bulan sura, Alip 1675 tahun jawa.

Dalam perang Mangkubumen yang terjadi disebelah barat sungai Bogowonto, pasukan Banyumas dipimpin oleh Tumenggung Yudanegara III (Adipati Banyumas). Sedangkan Dipayuda I, yaitu Ngabehi Karanglewas diangkat oleh Susuhunan Pakubuwana II pada hari Jumat wage tanggal 10 Maulud 1674 Jimahir atau 28 Februari 1749 M dan Kiai Arsantaka bertindak sebagai Komandan Kesatuan bawahannya. Mereka berpihak pada Pakubuwana III yang mendapat bantuan dar kompeni. Pasukan kompeni dibawah pimpinan Majoor de Clerx dan Kapten Hoetje.

Sementara itu pasukan Mangkubumen dalam menghadapi lawan, telah menggunakan taktik perang gerilya. Dengan demikian mereka berhasil menjebak serta membinasakan Pakubuwana III dan kompeni yang berjumlah besar. Majoor de Clerx, Kapten Hoetje dan Dipayuda 1 pada tagga 12 Desember 1751 (Minggu legi 22 Sura Jumawal 1677 Jawa) tewas dalam pertempuran itu. Jenazah Dipayuda 1 hilang. Sedangkan 40 orang serdadu Belanda (Kompeni) yang bersembunyi di desa Ganggeng ditawan. Pangeran Kabanaran beristirahat (mesanggrah) di Cengkawak.

Melihat kenyataan ini pembesar-pembesar VOC menjadai cemas. Mereka segera membujuk Pangeran Mangkubumi agar mau berdamai. Bujukan itu ternyata berhasil, tahun 1755 ditandatangani perjanjian Gianti yag isinya: Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, Mataram Barat diserahkan kepada Pangeran Mangkibumi dan Mataram Timur tetap dikuasai Sunan Pakubuwana III.

Kemudian Pangeran Mangkubumi bertahta menjadi raja dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I. Sebagai patihnya diangkat Raden Tumenggung Yudanegara III, yang bergelar Kanjeng Raden Adipati Danureja I. pengangkatan ini sbenarnya bersifat politis, karena meskipun Tumenggung Yudanegara III semula dianggap sebagai lawan, namun ia mempunyaipengaruh sangat besar dikalangan masyarakat, khusunya masyarakat Banyumas. Kerajaan Mataram barat disebut Ngayogyakarta Hadiningrat yang sekarang lebih dikenal dengan nama Jogjakarta.

Mas Said masih terus melanjutkan perlawanan, tahun 1757 ia terpaksa mengadakan perdamaian. Dalam perjanjian Salatiga ditetapkan, bahwa Mataram timur (Surakarta) dipecah menjadi dua, sebagian tetap menjadi kekuasaan Sunan Pkaubuwana III, sebagian lagi diserahkan kepada Mas Said.
Mas Said kemudian bergelar Mangkunegara, dan daerahnya disebut Mangkunegaran.

Sumber : Tri Atmo; Babad dan Sejarah Purbalingga; Pemerintah Kabupaten DATI II Purbalingga; 1984; ed.1

Ilustrasi Gambar : www.google.com

Selasa, 13 Maret 2012

Program Dompet Dhuafa Mampir ke Bumi Perwira


Kiprah Sein sang penemu beras varietas baru yang dikenal dengan nama “Beras Mutiara” nampaknya sudah mulai menasional. Setelah tahun-tahun sebelumnya mendapat penghargaan dalam ajang KEHATI Award dan SCTV Award, kali ini penghargaan diberikan oleh Dompet Dhuafa Republika.

Dompet Dhuafa (DD) adalah sebuah lembaga yang bekhidmat dalam pemberdayaan umat berbasiskan dana Zakat, Infaq/Shodaqoh dan Wakaf serta CSR.

Berbeda dengan 2 Award sebelumnya, DD tidak memberikannya diatas panggung, tapi lebih real dalam bentuk kerjasama program pemberdayaan dan pendampingan petani dengan potensi varietas beras yang telah ditemukan tersebut.

Kamis (08/03) kemarin GM Program Ekonomi Tendy Tektano didampingi Jody selaku Direktur Lembaga Pertanian Sehat-Dompet Dhuafa (LPS-DD) Melakukan kunjungan langsung ke Bukateja untuk melakukan penjajakan kerjasama. Gayung bersambut, Saein yang memang mendedikasikan hidupnya untuk pendampingan petani, tampak begitu antusias dengan kerjasama yang ditawarkan oleh DD ini.

Sosok sederhana, bersahaja dan istiqomah...punya impian yang besar dalam mengembangkan keragaman benih padi lokal dan membantu petani meningkatkan produksi sawahnya, itulah Saein komentar-Tendy. 

Setelah melakukan penjajakan awal untuk kerjasama, dari pihak DD mengambil sample beras mutiara untuk dilakukan uji laborat. Apakah beras ini bebas residu pestisida untuk kemudian bisa di klaim menjadi beras organik.

Hal yang sangat membanggakan apabila beras ini bisa lolos uji lab tentu bukan hanya Saein yang akan dikenal publik tapi lebih jauh lagi nama Purbalingga yang akan kesohor. Tinggal bagaimana seluruh elemen di Purbalingga dari mulai petani, pemerintah dan masyarakat mau mendukung program ini atau tidak.

Bentuk Pendampingan

DD akan melakukan upaya kerjasama program yang memberdayakan petani setempat (Purbalingga-red) secara komunal melalui program Community Farming. Program ini yang mendorong petani untuk menjadi entrepreneur yang mengelola mulai tahapan off farm sampai on farm sehingga pendapatannya meningkat.

Dalam waktu yang tidak lama, Purbalingga tidak hanya dikenal dengan Knalpot dan Bulu mata tapi Purbalingga sebagai sentra produksi Pertanian Sehat. Semoga….

Foto : google.com
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international voip calls